< Kembali

Geografis

1 Geografis

Provinsi Sulawesi Barat yang beribukota di Mamuju terletak antara 00121 - 30361 Lintang Selatan dan 118043'15" Bujur Timur, yang berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah di sebelah utara dan selat Makassar sebelah barat. Batas sebelah selatan dan timur adalah Provinsi Sulawesi Selatan.
Jumlah sungai yang mengaliri wilayah Sulawesi Barat tercatat sekitar 8 aliran sungai, dengan jumlah aliran terbesar di kabupaten Polewali Mandar, yakni 5 aliran sungai. Sungai terpanjang tercatat ada dua sungai yakni Sungai Saddang yang mengalir meliputi Kabupaten Tator, Enrekang, Pinrang dan Polewali Mandar serta Sungai Karama di Kabupaten Mamuju. Panjang kedua sungai tersebut masing masing 150 km.
Di Sulawesi Barat terdapat 2 gunung yang mempunyai ketinggian di atas 2.500 meter di atas permukaan laut. Gunung tersebut ini berdiri tegak di Kabupaten Mamuju. Luas wilayah Provinsi Sulawesi Barat tercatat 16.937,16 kilometer persegi yang meliputi 5 kabupaten. Kabupaten Mamuju merupakan Kabupaten terluas dengan luas 8.014,06 kilometer persegi atau luas kabupaten tersebut merupakan 47,32 persen dari seluruh wilayah Sulawesi Barat.

2 Demografi

Penduduk Sulawesi Barat berdasarkan hasil survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS) Tahun 2006 berjumlah 992.656 jiwa yang tersebar di 5 kabupaten, dengan jumlah penduduk terbesar yakni 356.391 jiwa mendiami Kabupaten Polewali Mandar. Secara keseluruhan jumlah penduduk yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin perempuan, hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih besar dari jumlah penduduk perempuan Angkatan kerja, Penduduk Usia Kerja (PUK) didefenisikan sebagai penduduk yang berumur 10 tahun ke atas.
Penduduk usia kerja terdiri dari Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja atau yang sedang mencari pekerjaan, sedangkan bukan angkatan kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya.
Penduduk usia kerja di daerah Sulawesi Barat pada tahun 2006 berjumlah 751.180 jiwa. Dari seluruh penduduk usia kerja yang masuk menjadi angkatan kerja berjumlah 444.324 jiwa atau lebih dari 50 persen dari seluruh Penduduk Usia Kerja. Dari seluruh angkatan kerja yang berjumlah 444.324 jiwa tercatat bahwa 53.215 orang dalam status mencari pekerjaan. dari angka tersebut dapat dihitung tingkat pengangguran terbuka di Sulawesi Barat pada tahun 2006, yakni sebesar 11,98 persen. Angka ini merupakan rasio antara pencari pekerjaan dan jumlah angkatan kerja. Dilihat dari segi lapangan usaha, sebagian besar penduduk Sulawesi Barat bekerja pada sektor pertanian yang berjumlah 276.299 orang atau 70,64 persen dari jumlah penduduk yang bekerja. Sektor lainnya yang juga menyerap tenaga kerja cukup besar adalah sektor perdagangan dan jasa-jasa.

3 Topograpi, Jenis Tanah dan Iklim

Keadaan Topografi Wilayah Provinsi Sulawesi Barat terdiri dari dataran rendah dan daratan tinggi. Luas wilayah ±16.787 km2, panjang garis pantai ±750,72 km dengan luas kewenangan laut ±5.580,35 km, kultur yang Agraris, dan iklim tropis type B. Daerah bergelombang, berbukit sampai bergunung dengan kemiringan agak curam dan sangat curam, masing-masing meliputi; Bagian Timur Kabupaten Mamuju, Bagian Utara Kabupaten Polewali Mandar, Kabupaten Majene dan Mamasa. Sedangkan jenis tanah di Sulawesi Barat berdasarkan laporan survey Lembagan Penelitian Tanah Bogor terdiri dari :
- Tanah Latosol terdapat pada daerah Kabupaten Majene, Mamuju dan Mamuju Utara.
- Tanah Alluvial dan Glay, terdapat pada daerah Polewali Mandar.
- Tahan Podsolik, terdapat pada sebagian besar Kabupaten Mamuju, Polewali Mandar dan Mamasa.

Keadaan iklim dengan memperbandingkan bulan kering dan bulan basah, Provinsi Sulawesi Barat mempunyai 3 (Tiga) tipe iklim yaitu : Type A adalah daerah yang paling sedikit bulan keringnya (1½ bulan) meliputi Kabupaten Mamuju Utara, Mamuju, Polewali Mandar, Majene dan Mamasa. Type B dengan bulan kering (1½ s/d 3 bulan) terdiri dari Kabupaten Majene dan Polewali Mandar. Type C dengan bulan kering (3 s/d 4 ½ bulan) sebagaian Kabupaten Majene dan Polewali Mandar.

4 Potensi Pengembangan Lahan Pertanian

Pembangunan pertanian di Sulawesi Barat sangat berpeluang dan memiliki potensi Sumber Daya Alam yang sangat besar. Tanaman Pangan, Sulawesi Barat adalah merupakan daerah penghasil tanaman pangan yang cukup besar di Kawasan Timur Indonesia. Selain Padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Barat adalaj Jagung, Ubi kayu, ubi jaloar dan kacang-kacangan. Produksi Padi Sulawesi Barat tahun 2006 sebesar 301.616 ton yang dipanen dari areal seluas 64.462 ha atau rata-rata 4,68 ton per hektar.
Sebagian besar produksi padi di Sulawesi Barat dihasilkan oleh jenis padi sawah. jenis padi ini menyumbang 96,03 persen dari seluruh produksi padi atau sebesar 289.632 ton. Sedangkan sisanya dihasilkan oleh padi ladang. Produksi Jagung Sulawesi Barat pada tahun 2006 sebesar 17.351 ton dengan luas panen 4.985 ha atau menghasilkan rata-rata 3,48 ton/ha. Produksi Ubi Jalar, ubi kayu.Tanaman Perkebunan, Hasil tanaman perkebunan yang cukup dominan di SUlawesi Barat pada tahun 2006 adalah tanaman Kelapa Sawit, Kakao dan Kelapa Dalam yang masing-masing berproduksi sebesar 261.004 ton, 102.976 ton dan 52.289 ton. sebagian besar hasil perkebunan tersebut dihasilkan oleh perkebunan besar swasta dan dapat dikatakan peran perkebunan rakyat relatif lebih kecil.


Adapun potensi yang dimaksud antara lain :
a. Subsektor Pangan dan Hortikultura :
    Lahan Kering                     : 218.363 Ha
    Lahan Tanah Tadah Hujan : 40.437 Ha
    Lahan Pengairan                : 15.601 Ha
b. Subsektor Peternakan :
    Komoditas Andalan antara lain : Sapi, Kerbau, Kambing, Ayam, Itik dan Babi
    Komoditas Unggulan antara lain : Sapi, Kerbau dan Kambing
c. Subsektor Kelautan dan Perikanan :
   Panjang garis pantai: ± 750,72 km
   Luas kewenangan laut  : ± 5.580,35 km2
  Tambak: 29.835 H

     KOMODITI SUBSEKTOR PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
TIAP KABUPATEN

NO.KOTA/KABUPATEN KOMODITI  
1 POLEWALI MANDARKAKAO, KELAPA HIBRIDA, KOPI ROBUSTA, KOPI ARABIKA, CENGKEH, JAMBU MENTE, PALA, KEMIRI, KAPUK, VANILI, SAGU DAN ENAU
2 MAJENEPADI, JAGUNG, UBI KAYU KACANG TANAH, KEDELAI, KACANG HIJAU
3 MAMUJUKELAPA SAWIT, KELAPA HIBRIDA, KAKAO, KOPI ARABIKA, KOPI ROBUSTA, KEMIRI, VANILI, SAGU, LADA
4 MAMUJU UTARAJERUK, KELAPA SAWIT, CENGKEH, KAKAO
5 MAMASAPADI, JAGUNG, UBI KAYU, UBI JALAR, KACANG TANAH, KACANG HIJAU, KACANG KEDELAI, KOPI, KAKAO, SAYUR-SAYURAN, BUAH-BUAH

5 Potensi Sumber Daya Alam Subsektor Peternakan

Pembangunan peternakan terdiri dari kegiatan budidaya ternak, pengembangan ternak, pengolahan pasca panen dan pemasaran. Khusus kegiatan budidaya ternak secara keseluruhan mempunyai potensi yang cukup besar, misalnya tersedianya lahan pangan, hijauan makanan ternak yang masih cukup luas, kondisi iklim yang cukup mendukung dan lain lain. Dengan tingkat penerapan yang relatif rendah sudah sangat memberikan peluang untuk pengembangannya.
Potensi peternakan seperti ternak sapi, kerbau, kuda, kambing, babi dan unggas mempunyai keunggulan yang komperatif. Potensi pasar untuk komoditi peternakan cukup besar, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam upaya peningkatan gizi masyarakat maupun untuk eksport. Bertambahnya penduduk dan meningkatnya pendapatan serta kesejahteraan masyarakat akan membuka peluang pasar terhadap komoditi peternakan yang semakin besar.
Pembangunan peternakan di Provinsi Sulawesi Barat pada dasarnya merupakan pembangunan berkelanjutan yang tak terpisahkan dari Pembangunan Pertanian sebagai Program Nasional. Pelaksanaan pembangunan peternakan tersebut mengacu pada program yang mengarah pada pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan yang terus dibangun dan dikembangkan. Adapun tujuan pembangunan peternakan di Provinsi Sulawesi Barat yang juga merupakan sasaran program rencana strategis pembangunan peternakan tahun 2005 – 2010 adalah sebagai berikut :
1) Peningkatan pendapatan masyarakat peternak;
2) Tersedianya kesempatan kerja di Sub Sektor Peternakan;
3) Peningkatan pendapatan Domestik Bruto dan Investasi;
4) Peningkatan Populasi;
5) Peningkatan Produksi BAH dan BHAH;
6) Meningkatnya konsumsi masyarakat, dan
7) Terwujudnya keseimbangan pemanfaatan dan kelestarian sumber daya alam.
Untuk mencapai tujuan pembangunan peternakan tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat mengacu pada pokok kebijakan umum pembagunan peternakan dengan fokus program yang rencana akan dilaksanakan melalui 2 (dua) bidang yaitu :
(1) Pembinaan Pengembangan Agribisnis,
(2) Pembinaan Peningkatan Ketahanan pangan.
Untuk mencapai tujuan pembangunan peternakan tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Barat mengacu pada pokok kebijakan umum pembagunan peternakan dengan fokus program yang rencana akan dilaksanakan melalui 2 (dua) bidang yaitu :
(1) Pembinaan Pengembangan Agribisnis,
(2) Pembinaan Peningkatan Ketahanan pangan.

(http://newsinformasi013.blogspot.com/2013/05/sejarah-terbentuknya-sulawesi-barat.html)

KONTAK

Kompleks Perkantoran Gubernur Sulawesi Barat Jl. H. Abd. Malik Pattana Endeng Rangas, Mamuju, Sulawesi Barat
(0462) 523xx
pde-dishubkominfo@sulbarprov.go.id

LOKASI