08 Des 2017

Deputi kementerian Bappenas RI Kunjungi SMKN Industri Kakao

Gubernur Sulawesi Barat, Ali Baal Masdar bersama Deputi kementerian Bappenas RI, Bambang Brodjonegoro dan rombongan berkunjung di SMK Negeri Sulbar Industri Kakao, Kamis, 7 November 2017. Kunjungan ke Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Kakao di Kecamatan Kalukku bersama rombongan Deputi Pendanaan Peembangunan Kemntrian Bappenas, Kennedy Simanjuntak, dan rombongan Millenium Challenge Corporation (MCC)  tersebut dengan tujuan melakukan peninjauan proyek sustainable cocoa production program (program produksi kakao berkelanjutan) Indonesia yang dicanangkan bersama MCC dan lembaga Internasional Swisscontact.

Gubernur Ali Baal Masdar memberikan apresiasi yang tinggi kepada sekolah pengembangan kakao yang pertama di Indonesia tersebut dan akan terus mendukung kelanjutan proyeknya“Saya harapkan kepada Dinas Pendidikan terus membina sumber daya manusia dan mengembangkan infrastrukturnya. Kami sebaga pemerintah akan terus mendukung semua program dan potensi yang dimiliki oleh Sulbar, karena hampir semua kabupaten di Sulbar mempunyai tanaman Coklat. Hanya saja, kondisi sekarang adalah masalah yang dihadapi petani adalah banyak serangan hama dan penyakit dan hama itulah yang harus dihilangkan,”kata Ali Baal.

Untuk pengembangan tanaman coklat, tahun inipun,akan lebih banyak lagi bantuan serta penunjang lainnya. Selain itu, direncanakan untuk produksi biji, agar tidak membeli produk dari luar lagi.“Dinas terkait pun akan turun tangan membantu, Perusda juga akan mengambil peran, jadi saya harapkan bekerjasamalah memasarkan semua komoditi ini. Kita juga perlu memikirkan lahan untuk penanaman komiditi ini nantinya. Mari kita tingkatkan kualitas untuk memajukan Sulbar kedepannya,” pungkas mantan bupati Polman tersebut.

Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Kementrian Bappenas, Kennedy Simanjuntak sangat mendukung pengembangan potensi-potensi yang dimiliki Sulbar sebagai dasar kemandirian yang harus dilanjutkan demi bangsa, dengan tujuan dapat mengentaskan kemiskinan yang ada.

“Kita harus dapat membangun dan mengoperasikan apa yang kita punya dengan bermitra atau bekerja sama dalam pengembangannya, agar kita bisa saling mengenal. Melaksanakannya sulit, oleh sebab itu proyek seperti ini menjadi alat bantu kita sebenarnya untuk melaksanakan kerjasama,” ungkapnya Lebih lanjut, Kennedy mengungkap, Sulbar merupakan salah satu dari tujuh provinsi yang mendapatkan proyek pencanangan pengembangan kakao di Sulbar , dan dicanangkan selama lima tahun

“Untuk itu, kita harus saling percaya dan harus bangga, jadikan pengembangan kakao di daerah ini terdengar di dunia, bahkan bukan tidak mungkin cokelat terenak bukan lagi dari Swiss tapi dari Mamuju,” tambahnya.

Selain itu, Kennedy juga menghimbau agar produk cokelat yang dihasilkan dapat dibagikan kepada para petani, “Karena jangan sampai mereka hanya mengenal buahnya, mereka juga harus kenal produknya,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Sulbar Industri Kakao, Sjahrir Tamsi menyatakan, sekolah pengembangan industri kakao tersebut merupakan sekolah binaan khusus pemerintah provinsi yang memiliki dua program, agribisnis tanaman perkebunan yang fokus pada budidaya kakao dan pengelolaan hasil pertanian fokus pada pengelolaan cokelat.

“Dana operasional dan infrastrukturnya murni dari APBD provinsi Sulbar, untuk kami sangat bangga menjadi bagian pemerintah provinsi Sulbar. Kami juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada mitra utama kami, lembaga internasional SwissContact yang bersama-sama kami membimbing sekolah dalam pengembangan kakao,” kata Sjahrir.

 

Sjahrir melanjutkan, sekolah dan pendidikan siswa, sebelum menyelesaikan studinya, siswa-siswa sekolah berbasis pertanian tersebut wajib mengikuti praktik kerja lapangan yang semua programnya difasilitasi oleh Swisscontact, “Kami harapkan kordinasi seperti ini dapat kami teruskan kedepannya, termasuk pengembangan potensi guru. Lebih lanjut dijelaskan, produk dari putra-putri daerah Sulbar yang telah diperkenalkan industri pabrik, telah dapat dinikmati. Dengan teknologi mesin yang dimiliki, 40 kg biji kakao dapat diproduksi menjadi berbagai varian, dengan 100 batang per satu kilogramnya. Seperi cokelat batangan malaqbi dan bubuk siap saji three in one, dengan harga 10.000 – 15.000 ribu per kemasan.

Hadir pada peninjauan tersebut, Wakil Bupati Mamuju, Irwan Pababari, Danlanal Mamuju, Letkol Siangka, Perwakilan Polda Sulbar, Perwakilan Korem 142/tatag, Kasdim 1418 Mamuju, Andi Ismail, adan para Pimpinan OPD provinsi dan kabupaten.

Read 47 times
(0 votes)
  1. Popular
  2. Recent
  3. Comments